“Bangsa Cina telah minum teh selama 5000 tahun untuk kesehatan dan kenikmatan. Asal mula teh pada awalnya masih merupakan legenda. Salah satunya adalah cerita tentang Kaisar Shen Nung. Pada suatu hari, ketika Kaisar Shen Nung akan minum air mendidih, beberapa daun dari pohon yang menjuntai tertiup angin dan jatuh ke panci berisi air rebusan yang tak menyerupai air tersebut. Sang Kaisar ingin tahu dan memutuskan untuk mencicipi air rebusan yang tak menyerupai minuman tersebut. Kaisar pun merasakan air itu sedap dan menyehatkan tubuh. Sementara legenda dari India menghubungkan penemuan teh dengan biarawan Bodhidharma. Setelah bertapa selama 7 tahun, beliau sangat lelah. Dalam keputusasaan beliau hendak mengunyah beberapa daun yang tumbuh di sekitar tempatnya. Ternyata setelah dikunyah, ia merasa segar kembali.
Pada awal abad ke-9, di Jepun seorang biarawan yang baru pulang dari pengembaraannya, bernama Dengyo Daishi membawa biji tanaman teh dari Cina. Sjak saat itulah teh dikenal di Jepang. Pada abad ke-17, pedagang dari bangsa Belanda dan Portugis pertama kali memperkenalkan teh ke Eropah. Bangsa Rusia merupakan penggemar awal teh di Eropah. Teh yang mereka konsumsi datang melalui jalur darat dari Cina memakai kereta yang ditarik oleh unta.” (sumber dari http://ms.wikipedia.org/wiki/Teh)
Teh??? Ya, sejak kecil saya tidak lepas dari minuman ini. Teh merupakan minuman favorit saya sejak kecil, mulai dari teh lokal, teh jepang (ocha) sampai chinese tea yang rasanya pahit. Mungkin slogan yang cocok buat saya adalah “apapun makanannya, minumnya teh tawar hangat”. Itu karena setiap saya makan pasti saya selalu minum teh. Beberapa tahun terakhir ini saya lebih menyukai chinese tea karena aromanya yang lebih harum dan rasanya lebih pahit di lidah.
Banyak manfaat dan khasiat yang terkandung di dalam teh, salah satunya sebagai anti oksidan.






